CIRI-CIRI SEBUAH NEGARA ISLAM MENURUT HUKUM SYARAK
بسم الله الرحمن الر حيم
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا
ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ،
واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Negara Islam ialah sebuah negara
ideologi yang ditegakkan dengan berpandukan kepada asas akidah Islam (Abdul
Karim Zaidan, Majmu’ah Buhuth Fiqhiah). Di samping itu, negara Islam atau “Dar
al-Islam” dapat diperjelaskan lagi sebagai negara yang melaksanakan
undang-undang dan hukum-hukum Islam serta berada di bawah kekuasaan dan
pemerintahan orang Islam. Ini termasuklah menjamin wilayah yang bebas dan selamat
untuk seluruh rakyatnya. Oleh yang demikian, pemerintahan adalah satu cara yang
terbaik dalam menyempurnakan kebajikan manusia melalui pengurusan dan
pentadbiran yang cekap dan telus.
Pembentukan negara Islam adalah suatu
tuntutan dalam Islam. Ia termasuk dalam perkara tuntutan Fardu Kifayah.
Kepentingan tentang pembentukan negara Islam ada kaitannya dengan perlaksanaan
syariah, karena syariah tidak dapat dilaksanakan tanpa ada negara dan
kedaulatan politik. Tuntutan perlaksanaan syari‘ah adalah wajib ke atas
Muslim, maka mewujudkan negara Islam adalah suatu yang wajib. Dalam kertas kerja ini perbincangan
akan ditumpukan kepada perkara berikut; pengenalan negara Islam, sumber
otoritas pembentukannya, syarat-syarat Kepala Negara Islam, pemilihan Kepala
Negara, Kewarganegaraan negara. Istilah Negara Islam “al-Dawlah Islamiyyah”
atau “al-Hukumah al-Islamiyyah” tidak didapati penggunaannya dalam Quran.
Istilah ini merupakan satu istilah baru yang mula diperkenalkan oleh Muhammad
Rashid Rida dalam bukunya, “Caliphate and the Great Immate” (1). Sungguhpun
begitu dalam Qur’an terdapat istilah-istilah lain yang bisa menjadi asas kepada
persoalan ini separti istilah khalifah, khulafa’ atau khala’if (2) dan juga
istilah imam (3), yang secara umumnya memberi pengartian sebagai pengganti
Allah atau khalifah Allah di bumi atau kepimpinan yang terbatas maksudnya untuk
perkataan imam
PEMBAHASAN
A. Ciri-ciri Negara Islam
Sebuah negara barulah absah disebut Negara Islam (Darul
Islam) ketika telah memenuhi dua syarat: (1) hukum yang diterapkan di negara
tersebut adalah hukum Islam; (2) kekuasaan (pemerintahan) di negara tersebut
dikendalikan dan dipimpin sepenuhnya oleh kaum Muslim. Dengan
demikian,pengkategorian Negara Islam atau negara kafir tidak didasarkan pada
seberapa banyak jumlah penduduk Muslim atau kafir yang ada di negara tersebut,
tetapi ditentukan oleh hukum yang diterapkan dan kekuasaan yang mengendalikan
negara tersebut.
a.
Seruan untuk
kembali kepada Al-Qur’an dan hadist nabi
b.
Penegasan akan
hak untuk mengadakan analisa yang mandiri (ijtihad) tentang Al- Qur’an dan
Sunnah, dari pada harus bersandar dan meniru pendapat dari generasi tokoh
dahulu yang berpengetahuan tinggi tentang islam atau ( taqlid)
c.
Penegasan
kembali keaslian dan keunikan Al- Qur’an , yang berbeda dengan lainnya.
B.
Negara-negara Islam
Adapun Negara- Negara yang termasuk
Negara islam adalah awalnya Turki berasaskan islam ketika masih dibawah Turki
Usmani selama enam ratus tahun , kemudian dengan datangnya Mustafa Kemal maka
telah merubahnya menjadi Negara yang Republik yang masih berasaskan islam ,
namun dengan perkembangan selanjutnya maka Negara tersebut berubah menjadi
Negara sekuler hingga saat ini. Selain itu Mesir, Iraq (termasuk Negara
demokrasi- sosialis), Arab Saudi ( monarki dan rajanya selain sebagai pemimpin
politik juga memimpin agama dan menggunakan syariat islam sebagai hokum yang
berlaku bagi kerajaannya), Pakistan ( Republik Islam Pakistan), Malaysia.
Menurut tokoh- tokoh PSII, dalam Negara
Indonesia merdeka sistem pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan rakyat,
dimana pemerintahan bertanggung jawab terhadap rakyat melalui wakil- wakil
mereka di Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR), merupakan system yang islami. Hal ini
berdasarkan pendapat Masyumi, NU, PSII, dan Perti,tentang system pemerintahan
yang paling dekat dengan ajaran islam adalah system demokrasi, tetapi empat
partai tersebut baik secara eksplisit maupun implisit berpendirian bahwa
kedaulatan rakyat itu tidak mutlak dan bukan tanpa batas. Keinginan dan
keputusan rakyat atau wakil- wakil mereka antara lain tidak boleh bertentangan
dengan ajaran atau hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.
Dasar
Argumentasi
Pertama: realitas negeri Makkah dan Madinah pasca hijrah.
Sebelum hijrah ke Madinah, Makkah dan seluruh dunia adalah darul kufur. Setelah
Nabi Muhammad saw. dan para Sahabatnya hijrah ke Madinah dan menegakkan Daulah
Islamiyah di sana, maka terwujudlah Darul Islam pertama kali dalam sejarah kaum
Muslim. Adapun Makkah dan negeri-negeri di sekitarnya tetap berstatus darul
kufur. Berdasarkan kedua realitas yang bertentangan inilah kita bisa memahami
syarat dan sifat Darul Islam dan darul kufur. Di Makkah saat itu, hukum-hukum
Islam tidak diterapkan dalam konteks negara dan masyarakat, meskipun di sana
telah tampak sebagian syiar agama Islam, yakni shalat yang dikerjakan oleh kaum
Muslim yang masih tinggal di Makah; itu pun harus seijin orang-orang kafir
sebagai penguasa Makkah. Di sisi lain, kaum Muslim yang ada di Makkah
tidak mampu menjamin keamanannya secara mandiri; mereka hidup di bawah jaminan
keamanan kaum kafir. Realitas ini menunjukkan kepada kita, bahwa di Makkah
tidak ditampakkan hukum-hukum Islam dan jaminan keamanan atas penduduknya
berada di tangan orang kafir. Karena itulah, Makkah disebut dengan darul kufur.
Ini berbeda dengan Madinah. Di Madinah, hukum-hukum Islam diterapkan dan
ditampakkan secara jelas, dan jaminan keamanan dalam dan luar negeri berada di
bawah tangan kaum Muslim. Kedua: bukti lain yang mendukung pasal di atas adalah
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sulaiman Ibnu Buraidah, yang di dalamnya
dituturkan bahwa Nabi SAW. pernah bersabda:
أُدْعُهُمْ
إِلَى الإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوكَ فأَقْبِلْ مِنْهُمْ و كُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ
أُدْعُهُمْ إِلَى التَّحَوّلِ مِنْ دَارِهِمْ
الى
دَارِالمُهَاجِرِيْنَ و أَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ ما
لِلْمُهَاجِرِيْنَ وَ عَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِريْنَ
Artinya :
Serulah mereka pada Islam. Jika mereka menyambutnya,
terimalah mereka, dan hentikanlah peperangan atas mereka, kemudian ajaklah
mereka berpindah dari negerinya (darul kufur) ke Darul Muhajirin (Darul Islam,
yang berpusat di Madinah), dan beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka
telah melakukan semua itu maka mereka akan mendapatkan hak yang sama
sebagaimana yang dimiliki kaum muhajirin, dan juga kewajiban yang sama seperti halnya
kewajiban kaum Muhajirin (HR Muslim).
Darul Muhajirin pada riwayat di atas
adalah sebutan untuk Darul Islam pada masa Rasulullah saw. Manthûq hadis di
atas menunjukkan dengan jelas, bahwa Rasulullah saw. memerintahkan para Sahabat
untuk memerangi negeri-negeri yang tidak berada dalam kekuasaan kaum Muslim
meskipun di negeri tersebut telah tampak sebagian syiar Islam. Adanya azan di
wilayah tersebut menunjukkan dengan jelas adanya syiar agama Islam. Hanya saja,
Nabi saw. dan para Sahabat tetap memerangi wilayah tersebut karena kekuasaan
negeri tersebut tidak berada di bawah kendali penguasa Islam.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa Darul Islam adalah negara yang di dalamnya diterapkan hukum
Islam, sementara jaminan keamanannya ditanggung dan dikendalikan sepenuhnya
oleh kaum Muslim; tanpa memperhatikan lagi komposisi penduduk Muslim dan
kafirnya.
Pendapat Ulama Mengenai Negara Islam dan Negara Kafir
Dr. Muhammad Khair Haekal menyatakan
bahwa sesungguhnya frasa dâr al-Islâm adalah istilah syar’i yang dipakai untuk
menunjukkan realitas tertentu dari sebuah negara. Frase dâr al-kufr juga
merupakan istilah syar’i yang digunakan untuk menunjukkan realitas tertentu
dari sebuah negara yang berlawanan dengan Darul Islam. Begitu pula istilah dâr
al-kufr, dâr as-Syirk dan dâr al-harb; semuanya adalah istilah syar’i yang
maknanya sama untuk menunjukkan realitas tertentu dari sebuah negara yang faktanya
berbeda dengan fakta pertama (Darul Islam).
Istilah dâr al-Islâm dan dâr al-kufr telah dituturkan di
dalam Sunnah dan atsar para Sahabat.
Imam al-Mawardi menuturkan sebuah
riwayat dari Nabi SAW. bahwa beliau pernah bersabda, “Semua hal yang ada di
dalam Darul Islam menjadi terlarang (terpelihara), sedangkan semua hal yang ada
di dalam dâr asy-syirk telah dihalalkan.” Maksudnya, semua orang yang
hidup di dalam Darul Islam, harta dan darahnya terpelihara. Harta penduduk
Darul Islam tidak boleh dirampas, darahnya juga tidak boleh ditumpahkan tanpa
ada alasan yang syar’i. Sebaliknya, penduduk darul kufur, maka harta dan
darahnya tidak terpelihara, kecuali ada alasan syar’i yang mewajibkan kaum
Muslim melindungi harta dan darahnya.
Di dalam kitab Al-Kharaj karya Abu
Yusuf dituturkan, bahwa ada sebuah surat yang ditulis oleh Khalid bin Walid
kepada penduduk al-Hijrah. Di dalam surat itu tertulis: Aku telah menetapkan
bagi mereka (penduduk Hirah yang menjalin perjanjian dzimmah), yakni orang tua
yang tidak mampu bekerja, atau orang yang cacat, atau orang yang dulunya kaya
lalu jatuh miskin, sehingga harus ditanggung nafkahnya oleh penduduk yang lain;
semuanya dibebaskan dari pembayaran jizyah, dan mereka akan dicukupi nafkahnya
dari harta Baitul Mal kaum Muslim, selama mereka masih bermukim di Darul Hijrah
dan Darul Islam. Jika mereka berpindah ke negeri lain yang bukan Darul Hijrah
maka tidak ada kewajiban bagi kaum Muslim untuk mencukupi nafkah mereka.
Ibnu Hazm mengatakan, “Semua tempat
selain negeri Rasulullah saw. adalah tempat yang boleh diperangi; disebut dâr
al-harb, serta tempat untuk berjihad.” Berdasarkan riwayat di atas dapat
disimpulkan bahwa frasa dâr al-Islâm adalah istilah syar’i yang ditujukan untuk
menunjukkan realitas tertentu dari sebuah negara. Sebab, di sana ada perbedaan
hukum dan perlakuan pada orang yang menjadi warga negara Darul Islam dan darul
al-kufur. Para fukaha juga telah membahas kedua istilah ini di dalam
kitab-kitab mereka. Dengan penjelasan para fukaha tersebut, kita dapat memahami
syarat atau sifat yang harus dimiliki suatu negara hingga absah disebut negara
Islam. Imam al-Kasai, di dalam kitab Badâi’ ash-Shanai’, mengatakan: Tidak
ada perbedaan di kalangan fukaha kami, bahwa darul kufur (negeri kufur) bisa
berubah menjadi Darul Islam dengan tampaknya hukum-hukum Islam di sana. Mereka berbeda pendapat mengenai
Darul al-Islam, kapan ia bisa berubah menjadi darul al-kufur? Abu Hanifah
berpendapat, Darul al-Islam tidak akan berubah menjadi darul al-kufur kecuali
jika telah memenuhi tiga syarat.
1.
Pertama: telah
tampak jelas diberlakukannya hukum-hukum kufur di dalamnya.
2.
Kedua: meminta
perlindungan kepada darul kufur.
3.
Ketiga: kaum
Muslim dan dzimmi tidak lagi dijamin keamanannya, seperti halnya keamanaan yang
mereka dapat pertama kali, yakni jaminan keamanan dari kaum Muslim.
Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat,
“Darul al-Islam berubah menjadi darul kufur jika di dalamnya telah tampak jelas
hukum-hukum kufur. Di dalam hâsyiyah (catatan pinggir) Ibnu ‘Abidin atas
kitab Ad-Durr al-Mukhtâr Syarh Tanwîr al-Abshâr disebutkan: Darul Islam tidak
akan berubah menjadi dâr al-harb….(karena) misalnya, orang kafir berhasil
menguasai negeri kita, atau penduduk Mesir murtad kemudian mereka berkuasa,
atau diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur; atau negeri itu mencabut dzimmah
(perjanjian untuk mendapatkan perlindungan dari Daulah Islam), atau negeri
mereka dikuasai oleh musuh; salah satu hal tersebut tidak menjadikan Darul
Islam berubah menjadi dar al-harb jika telah memenuhi tiga syarat. Adapun Abu
Yusuf dan Mohammad berpendapat, cukup dengan satu syarat saja, yakni tampaknya
hukum-hukum kufur di negara itu, dan ini adalah qiyas
Syaikh Muhammad Abu Zahrah berkomentar:
Barangkali buah perbedaan di antara dua pendapat tersebut tampak jelas pada
masa kita sekarang ini. Karena itu, jika pendapat Abu Hanifah itu diterapkan
maka negeri-negeri mulai dari wilayah barat hingga daerah Turkistan dan
Pakistan terkategori Darul Islam. Sebab, walaupun penduduknya tidak menerapkan
hukum-hukum Islam, mereka hidup dalam perlindungan kaum Muslim. Karena itu,
negeri-negeri ini termasuk Darul Islam. Jika pendapat Abu Yusuf dan Muhammad
serta para fukaha yang sejalan dengan keduanya diterapkan maka negeri-negeri
Islam sekarang ini tidak terhitung sebagai Darul Islam, tetapi dâr al-harb.
Sebab, di negeri-negeri itu tidak tampak dan tidak diterapkan hukum-hukum
Islam.
Di dalam kamus fikihnya, Syaikh Sa’di
Abu Habib menjelaskan tentang Darul Islam dan dâr al-harb sebagai berikut:
Menurut pengikut mazhab Syafii, dâr al-harb adalah negeri-negeri kaum kafir
(bilâd al-kuffâr) yang tidak memiliki perjanjian damai dengan kaum Muslim.
Adapun Darul Islam menurut pengikut mazhab Syafii adalah setiap negeri yang
dibangun oleh kaum Muslim, seperti Baghdad dan Bashrah; atau penduduknya masuk
Islam, seperti Madinah atau Yaman; atau negeri yang ditaklukkan dengan perang,
semacam Khaibar, Mesir dan wilayah kota Irak; atau ditaklukkan secara damai;
atau wilayah yang kita miliki dan orang kafir yang hidup di dalamnya membayar
jizyah.
Adapun menurut pengikut Imam Ahmad bin
Hanbal, “Darul Islam adalah setiap negeri yang dibangun oleh kaum Muslim,
seperti Bashrah, atau negeri yang ditaklukkan oleh kaum Muslim, seperti kota
Yaman.”
Abdul-Qadir Audah menyatakan: Darul
Islam adalah negeri yang tampak jelas di dalamnya penerapan hukum-hukum Islam,
atau penduduknya yang Muslim mampu menampakkan hukum-hukum Islam di negeri itu.
Termasuk Darul Islam setiap negeri yang seluruh penduduknya beragama Islam,
atau mayoritasnya beragama Islam. Juga termasuk Darul Islam setiap negeri yang
dikuasai dan diperintah oleh kaum Muslim, walaupun mayoritas penduduknya bukan
kaum Muslim. Termasuk Darul Islam juga setiap negeri yang dikuasai dan
diperintah oleh non-Muslim, namun penduduknya yang Muslim masih tetap bisa
menampakkan hukum-hukum Islam, atau tidak ada satu pun halangan yang merintangi
mereka untuk menampakkan hukum-hukum Islam.
Di dalam kitab As-Siyâsah
asy-Syar’iyyah karya Syaikh ‘Abd al-Wahhab Khalaf dituturkan, “Darul-Islam
adalah negeri yang diberlakukan di dalamnya hukum-hukum Islam dan keamanan
negeri itu dibawah keamanan kaum Muslim, sama saja, apakah penduduknya Muslim
atau dzimmi. Adapun dâr al-harb adalah negeri yang tidak diberlakukan di
dalamnya hukum-hukum Islam dan keamanan negeri itu tidak dijamin oleh kaum
Muslim.
Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani merinci
apa yang dijelaskan di dalam kitab As-Siyâsah asy-Syar’iyyah karya Syaikh ‘Abd
al-Wahhab Khalaf sebagai berikut: Penetapan suatu negeri termasuk Darul Islam
atau darul al-kufur harus memperhatikan dua perkara. Pertama: hukum yang
diberlakukan di negeri itu adalah hukum Islam. Kedua: keamanan di negeri itu
harus dijamin oleh kaum Muslim, yakni kekuasaannya. Jika suatu negeri memenuhi
dua perkara ini maka ia disebut Darul Islam dan negeri itu telah berubah dari
darul kufur menuju Darul Islam. Akan tetapi, jika salah satu unsur itu lenyap
maka negeri itu menjadi darul kufur. Negeri Islam yang tidak menerapkan
hukum-hukum Islam adalah darul kufur. Begitu pula sebaliknya, jika negeri Islam
menerapkan hukum-hukum Islam, namun keamanannya tidak dijamin oleh kaum Muslim,
yakni kekuasaannya, namun dijamin oleh kaum kafir, maka negeri itu termasuk
darul kufur. Oleh karena itu, seluruh negeri kaum Muslim sekarang ini termasuk
darul al-kufur. Alasannya, negeri-negeri itu tidak menerapkan hukum Islam.
Suatu negeri juga tetap disebut darul
kufur seandainya di dalamnya kaum kafir menerapkan hukum-hukum Islam atas kaum
Muslim, namun kekuasaannya dipegang oleh kaum kafir. Dalam keadaan semacam ini,
keamanan negeri itu di bawah keamanan kafir, dan secara otomatis ia termasuk
darul kufur. Menurut Dr. Mohammad Khair Haekal, dari pendapat-pendapat di atas,
pendapat yang paling râjih adalah pendapat yang menyatakan, bahwa Darul Islam
adalah negeri yang sistem pemerintahannya adalah sistem pemerintahan Islam
(diatur dengan hukum Islam) dan pada saat yang sama, keamanan negeri tersebut,
baik keamanan dalam dan luar negeri, berada di bawah kendali kaum Muslim.
Sistem Pemerintahan Islam
Sistem pemerintahan adalah satu sistem
pelaksanaan terhadap dasar dan undang-undang sesebuah Negara. Asas pembentukan
sesebuah Negara ialah, bangsa, tanah yang didiami dan kuasa yang memerintah.
Negara Islam pula adalah sebuah Negara yang menjadikan Syariat Islam sebagai
satu-satunya sumber perundangan. Manakalah Negara yang tidak menjadikan Syariat
Islam sebagai sumber perundangan, maka ia bukanlah sebuah Negara Islam. Sebuah
Negara Islam perlulah diperintah melalui sistem pemerintahan Islam. Sesungguhnya
sistem pemerintahan Islam adalah unik dan berbeza dengan mana-mana sistem
pemerintahan yang ada, sekalipun mungkin kita dapati terdapat beberapa
persamaan dengan sistem yang lain dalam cabang-cabang kecil. Ini karana sistem
ini adalah syariat Allah SWT yang disyariatkan untuk kebahagiaan keseluruhan
manusia.
Antara asas sistem pemerintahan Islam
adalah:
1-
Ketuanan adalah
hak Allah SWT. Ini bererti bahawa pemerintah tidak berhak mencipta syariat atau
undang-undang, bahkan tugas mereka adalah untuk memastikan pelaksanaan hukum
Allah SWT. Firman Allah SWT: “Dan hendaklah kamu memerintah mereka dengan apa
yang diturunkan oleh Allah”. Surah al-Maidah : 49. Banyak ayat suci al-Qur’an
yang menegaskan demikian, bahkan tidak meletakkan ketuanan kepada hukum Allah
adalah lambang keengkaran (kufur), kezaliman dan kejahatan (fasiq). Firman
Allah: “Dan sesiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah,
maka mereka adalah orang-orang yang kafir”. Surah al-Maidah : 44. Dalam surah
yang sama, ayat 45 “mereka adalah orang-orang yang zalim”, dan pada ayat 47: “
mereka adalah orang-orang yang fasiq”.
2-
Kekuasaan
adalah milik ummah. Ini kerana umat Islamlah yang diwajibkan membawa risalah
Islam dan melaksanakannya. Dan kuasa mereka tampak jelas, kerana merekalah yang
wajib memilih dan melantik seorang ketua yang berjanji setia (bai’ah) untuk
beramal dengan hukum Allah SWT dan sunnah NabiNya. Seorang ketua merupakan
pengganti kepada ummah.
3-
Hanya seorang
ketua untuk umat Islam (biasanya dipanggil sebagai Khalifah). Umat Islam
dilarang untuk melantik ramai ketua dan berpecah menjadi negara-negara yang
kecil. Sabda Nabi s.a.w. “Bila diberikan bai’ah kepada dua orang khalifah, maka
bunuhlah orang yang kedua daripada mereka”. Riwayat Muslim. Realiti yang
berlaku sekarang sebenarnya bercanggah dengan tuntutan Islam, dan kaum muslimin
hendaklah berusaha ke arah kesatuan keseluruhan umat Islam di dunia, supaya
mereka menjadi umat yang gagah dan disegani sebagaimana dalam Sistem Khilafah Islam
yang lepas.
Tujuan Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Islam
Antara tujuan pelaksanaan sistem
pemerintahan Islam disamping ia adalah pengabdian kepada Allah SWT dengan
memberikan ketuanan hanya kepada Allah SWT ialah:
1- Menegakkan keadilan
dengan penuh kesempurnaan, samada keadilan sosial, keadilan ekonomi, keadilan
pentadbiran dan politik, serta keadilan dalam sistem. Menegakkan keadilan
merupakan faktor yang paling penting dalam kesinambungan sesebuah Negara, dan
dalam Islam ia merupakan tugas yang paling utama bagi seorang Khalifah.
2-Memberikan
kemaslahatan kepada ummah. Kerana inilah telah masyhur satu kaedah politik
Islam, iaitu “Tindakan Imam (Pemerintah, Kahlifah) mestilah didasarkan kepada
kemaslahatan (kepentingan) rakyat”. Dan kemaslahatan manusia keseluruhannya
sebenarnya berada Syariat Allah SWT.
Ciri-ciri Sistem Pemerintahan Islam
Antara ciri yang perlu ada dalam sistem
pemerintahan Islam ialah:-
1- Keadilan.
Memandangkan tujuan uatama sistem pemerintahan Islam ialah menegakkan keadilan,
maka sudah tentu ciri utama sistem ini ialah keadilan. Jika pemerintah
melakukan kezaliman, maka sebenarnya dia telah lari daripada landasan sebenar
sistem pemerintahan Islam, dan rakyat berhak menegurnya, bahkan memecatnya.
2- Syura
(Permesyuaratan). Ia bererti bahawa kaum muslimin (pemerintah dan rakyat)
hendaklah saling berbincang mencari keputusan dan pendapat yang terbaik dalam
perkara yang tiada nas. Dan keputusan yang dibuat pula janganlah berlawanan
dengan kehendak Syariat Islam. Perintah syura ini terdapat dalam al-Qur’an dan
juga praktikal amali Rasulullah S.A.W. Ia merupakan satu perancangan yang
teliti sebelum pelaksanaan sesuatu ketetapan dari pihak pemerintah.
3- Kepatuhan. Ini
bererti warganegara Negara Islam hendaklah patuh kepada Negara (pemerintah) dan
menyahut serta melaksanakan perintah dan tuntutan Negara. Kepatuhan kepada
Negara ini merupakan satu kewajiban, tetapi diikatkan dengan syarat “tiada
ketaatan dalam perkara yang bercanggah dengan Syariat Islam”. Dan bila arahan
yang dikeluarkan bercanggah dengan Islam, maka rakyat tidak perlu mentaatinya,
bahkan wajib menasihati pemerintah.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembentukan sesebuah negara Islam tidak
wajar dipisahkan dalam arus permodenan yang sedang membangun. Ini kerana
prinsip, dasar dan struktur negara Islam adalah ketetapan Allah dan ia
merupakan aspek-aspek syariat Islam yang lengkap dan syumul untuk dilaksanakan
tidak kira masa, tempat dan sesiapa pun. Oleh yang demikian, negara Islam
berperanan besar dalam menentukan hala tuju dan masa depan negara di samping
membentuk masyarakat yang mempunyai keseimbangan antara tuntutan ukhrawi dan
tuntutan duniawi. Sebagaimana
yang kita saksikan dalam sejarah jika suatu Negara tidak mampu mempertahankan
integritas Negara, maka sungguh amat sulit menjamin terlaksananya undang-
undang. Situasi yang semacam ini juga akan mengakibatkan warga Negara yang
tidak mampu merealisasikan kemampuan baik dalam Negara dan beribadah dalam
rangka maelaksanakan wahyu Allah, baik itu ibadah yang bersifat hablum minannas
maupun hablumminal Allah. Oleh karena itu hendaknya dalam tata pemerintahan
dibarengi dengan berlandaskan kepada Al-qur’an dan Hadist.
Takrif
1. Menurut Syeikh Muhammah Abu Zahrah, negara Islam ialah negara yang
berada di bawah kekuasaan pemerintah Islam, kekuatan dan pertahanannya
berada di tangan umat Islam. Negara seumpama ini wajib dipertahankan
oleh setiap Muslim.
2. Imam Al-Fahistani dari mazhab Hanafi menyatakan negara Islam ialah
negara yang melaksanakan hukum Islam dan berkuat kuasa ke atas
rakyatnya.
3. Menurut Imam Al-Shafie, mana-mana negeri yang pernah menjadi
negara Islam, status negara Islam tidak akan hilang berdasarkan hukum
Islam sekali pun umat Islam telah dijajah di negara berkenaan. Ini
bermakna bahawa negara-negara Islam yang berada di bawah pemerintahan
komunis dan juga kuasa-kuasa lain adalah dianggap sebagai negara Islam
yang dijajah dan menjadi kewajipan umat Islam membebaskannya apabila
mereka mampu.
4. Dr. Said Ramadhan Al-Buti telah menjelaskan persoalan negara Islam
di dalam Kitabnya Al-Jihad Fi Al Islam bahawa negara Islam adalah
seperti yang telah disepakati oleh Imam-Imam Mazhab Empat, iaitu negeri
atau negara yang berada di bawah kekuasaan umat Islam dan kedaulatan
mereka dan dengannya umat Islam dapat mengamalkan Islam secara terbuka
dan mampu mempertahankan diri dari serangan musuh. Kemasukan tersebut
berlaku melalui peperangan, perdamaian dan sebagainya.
5. Perbezaan pandangan para ulama’ dalam mentakrifkan negara Islam,
namun perbezaannya hanya dari segi susunan lafaznya sahaja. Kesemua
takrif tersebut difahami dalam satu makna yang disepakati oleh semua
ulama’, iaitu orang Islam mempunyai kedaulatan ke atas diri mereka di
negara berkenaan, mereka boleh menegakkan hukum-hukum dan syiar-syiar
Islam di dalamnya.
6. Antara hukum-hukum yang berkaitan dengan negara Islam –
a) wajib mempertahankan dan melaksanakan hukum Islam di dalamnya; dan
b) ia tidak bertukar menjadi negara kufur atau Dar Al-harb selepas negara Islam.
Tanggungjawab Kerajaan Sebagai Sebuah Negara Islam
13. Dalam kitab-kitab tulisan Abu Yaala dari Mazhab Hanbali dan
Al-Mawardi seorang ulama’ terkemuka mazhab Shafie bahawa mereka telah
menggariskan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawab sesebuah
pemerintahan Islam di dalam kitab masing-masing yang berjudul Al-Ahkam Al-Sultaniyah.
14. Menurut Al-Mawardi secara umumnya tugas pemerintah Islam ialah
menjaga kepentingan agama dan mentadbir urusan negara dan umat.
15. Manakala Ibnu Taimiyah pula berpendapat bahawa urusan
pemerintahan adalah antara kewajipan agama yang terbesar, malah agama
itu sendiri tidak dapat ditegakkan tanpa wujudnya pemerintah.
16. Berdasarkan pandangan Al-Mawardi dalam huraiannya secara
terperinci berkenaan dengan tugas-tugas dan tanggungjawab pemerintah
adalah seperti berikut:
a) Memelihara agama daripada sebarang
pencerobohan dan ajaran yang boleh memesongkan akidah umat Islam seperti
yang telah disepakati oleh para ulama’ yang berlandaskan Al Quran dan
Hadith.
b) Melantik Jemaah Menteri bagi membantu negara dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan, antaranya seperti berikut:
i) Menurut pandangan Al-Mawardi, “Harus melantik orang kafir yang menjadi warganegara Islam (zimmi) sebagai menteri untuk melaksanakan dasar-dasar yang dibuat oleh pemerintah.
ii) Mengenai perlantikan wanita sebagai
Menteri dan jawatan awam yang lain, para ulama’ berselisih pendapat.
Sebahagian ulama’ seperti Al-Mawardi tidak mengharuskan dan sebahagian
ulama’ lain seperti Imam Abu Hanifah dan Ibnu Jarir Al Tabari
berpandangan mengharuskan untuk melantik wanita memegang jawatan-jawatan
awam kecuali jawatan tertinggi sebagai ketua Negara.
iii) Dr. Ibrahim Abd.Hamid dari
Universiti Al-Azhar dalam kajiannya “Nizam Al-Qada Fi Al Islam” telah
menyokong pandangan dari Abu Hanifah atas alasan tiada sebarang dalil
yang kukuh melarangnya. Bahkan di dalam sejarah Islam, terdapat wanita
yang telah dilantik untuk memegang jawatan awam.
iv) Saidina Umar R.A pernah melantik
seorang wanita bernama Assyifa’ sebagai ketua perbandaran pada zaman
pemerintahannya. Saidatina A’isyah R.H pernah menjadi pemerintah
tertinggi satu pasukan tentera yang terlibat dalam peperangan Al-Jamal.
Beliau juga adalah seorang ahli ijtihad di kalangan sahabat. (Al Ansari
1980: hlm.303).
c) Menyediakan tentera yang mampu mempertahankan agama dan negara daripada pencerobohan dan menjamin keamanan dalam negara.
d) Mewujudkan sistem kehakiman bagi menyelesaikan pertikaian dan menegakkan keadilan.
e) Mendirikan sembahyang lima waktu,
sembahyang Jumaat dan sembahyang hari raya, membina masjid-masjid dan
melantik imam-imam. Dalam perkara ini Abu Yaala telah mengkategorikan
masjid kepada dua jenis, iaitu –
i) masjid Sultan, iaitu masjid yang terletak di bawah kuasa pemerintah; dan
ii) masjid am, iaitu masjid persendirian.
Bagi masjid Sultan, kuasa melantik imam masjid adalah menjadi hak
pemerintah. Dengan itu tidak harus menjadi imam di masjid Sultan
melainkan telah dilantik oleh kerajaan.
Menurut Abu Yaala, sekiranya imam rasmi telah selesai menunaikan
sembahyang secara berjamaah, tidak harus bagi orang lain, mendirikan
Jemaah kerana ditakuti perbuatan tersebut dianggap sebagai satu bentuk
tentangan terhadap kuasa pemerintah.
Pandangan ini juga telah disepakati oleh Imam Shafie, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.
f) Mengendalikan urusan mengerjakan ibadah Haji.
g) Mengendalikan urusan pemunggutan dan pembahagian zakat seperti perlantikan Amil.
h) Memungut cukai atau hasil daripada sumber-sumber yang ada dalam Negara (Kharaj).
i) Hal-hal yang berkaitan dengan pengurusan dan pembangunan tanah-tanah (Ihya Al-Mawat).
j) Mewujudkan sistem pertadbiran yang
cekap bagi megendalikan urusan-urusan kewangan, harta-harta milik
kerajaan, pekerja dan juga pasukan bersenjata.
k) Membenteras jenayah dan mengenakan hukuman terhadap penjenayah dengan hukuman yang sesuai sama ada hudud atau ta’zir.
l)Melaksanakan tugas-tugas hisbah
iaitu dikenali sebagai penguatkuasa, tujuannya untuk memastikan supaya
adab, akhlak dan syiar Islam serta peraturannya bagi menjamin
kesejahteraan masyarakat dapat ditegakkan.
17. Adalah menjadi tanggungjawab kerajaan Islam untuk memastikan
kesejahteraan rakyatnya terjamin dari segi keselamatan dan kesejahteraan
yang menjadi tonggak kepada wujudnya sesebuah negara Islam.
Kerajaan Menurut Hukum Islam
19. Menurut Al-Mawardi, pelantikan ketua negara Islam melalui dua cara, iaitu –
a) melalui pemilihan baiah masyarakat Islam; dan
b) melalui pelantikan oleh pemerintah sebelumnya (Wilayah Al-‘Ahd).
22. Mengenai prinsip pelaksanaan “Syura” yang merupakan salah satu
prinsip asas di dalam sistem pemerintahan Islam, menurut Rashid Rida,
“Sistem syura ini berbeza mengikut keadaan yang di hadapi oleh sesuatu
umat serta perkembangan sesebuah masyarakat kerana dalam perkara seperti
ini tidak mungkin ditetapkan kaedah pelaksanaan untuk semua tempat dan
masa”.
23. Syeikh Toha Abd. Al-Baqi Surus juga menyatakan “Syura di dalam
Islam adalah suatu prinsip yang bersifat am, dan berubah kaedah
pelaksanaan mengikut perkembangan sistem tamadun serta kehidupan
manusia. Ia boleh dilaksanakan seperti pada zaman permulaan Islam
ataupun seperti yang telah dilaksanakan pada zaman ini melalui institusi
Parlimen”.
24. Dr. Abdul Hamid Ismail Al-Ansari, menyatakan bahawa Dewan-dewan
perwakilan seperti Parlimen yang ada pada hari ini boleh dianggap
sebagai “Majlis Syura” dan anggota-anggotanya adalah sebagai ahli Majlis
Syura, cara-cara pemilihan yang telah dilaksanakan pada zaman ini
adalah sah di sisi Islam.”
25. Mengenai pelantikan atau pemilihan orang bukan Islam sebagai
anggota Parlimen atau Dewan Undangan Negeri, beliau berpendapat adalah
diharuskan dan pendapat beliau itu tidak dibantah oleh para ulama’
Al-Azhar ketika membentangkan tesis Ph.D beliau.
26. Imam Ahmad ibnu Hanbal menyatakan, “Sesiapa yang dilantik menjadi
pemerintah dan masyarakat bersetuju dengannya, maka ia adalah
pemerintah yang sah dan sesiapa yang mendapat kuasa melalui kekuatan
(Perang) sehingga berjaya menjadi pemerintah, maka ianya juga adalah
pemerintah yang sah”. (Ibn Jauzi-al Manaqib).
27. Imam Ibnu.Taimiyah menyatakan, “Pemerintah yang wajib ditaati
adalah pemerintah yang mempunyai kuasa, sama ada ianya adil atau zalim,
tetapi tidak wajib taat kepada perintah atau suruhan untuk melakukan
maksiat”.
Kewajipan Umat Islam Terhadap Pemerintah
28. Menurut Abu Yaala, apabila pemerintah telah melaksanakan
tanggungjawabnya maka kewajipan umat terhadap pemerintah adalah seperti
berikut, antaranya –
a) taat (dalam perkara yang tidak mendatangkan maksiat); dan
b) menolong pemerintah dalam melaksanakan tanggungjawabnya.
29. Allah S.W.T berfirman dalam Surah Al-Nisa’ ayat 59 bermaksud –
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah
kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasullah dan kepada Ulil Amri
(orang-orang yang berkuasa) dikalangan kamu.”
30. Dalam Hadith Rasullah S.A.W yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bermaksud –
“Sesiapa yang taat kepadaku, bererti ia
taat kepada Allah, sesiapa yang derhaka kepadaku bererti ia telah
derhaka kepada Allah, sesiapa yang taat kepada pemerintah bererti ia
taat kepadaku, dan sesiapa yang derhaka kepada pemerintah bererti ia
derhaka kepadaku.”.
31. Dalam sebuah Hadith diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bermaksud –
“Sesiapa yang menarik kesetiaannya kepada
pemerintah, ia menemui Allah tanpa sebarang hujah, sesiapa yang mati
tanpa kesetiaan kepada pemerintah, mati ia seperti dalam jahiliyah
(maksiat).”.
32. Dalam sebuah Hadith diriwayatkan oleh At Tabari yang bermaksud –
“Taatilah kepada pemerintah kamu dalam
apa jua keadaannya, sekiranya mereka, memerintahkan kamu dengan perintah
yang sesuai dengan ajaranku, maka mereka diberi pahala kerana mentaati
mereka, sekiranya mereka memerintah kamu dengan perintah yang tidak
sesuai dengan ajaranku, maka dosanya ditanggung oleh mereka dan kamu
terselamat daripada dosa.”.
33. Dalam sebuah Hadith diriwayatkan oleh At Tabari yang bermaksud –
“Sekiranya kamu berada dibawah
pemerintah-pemerintah yang menyuruh kamu mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat dan berjihad, maka haramlah ke atas kamu mencaci mereka
dan halallah bagi kamu mengikut mereka.”.
34. Prinsip ketaatan kepada pemerintah ini sangat penting dalam Islam
kerana kehidupan umat serta semua peraturan yang dibawa oleh Islam
tidak akan dapat ditegakkan tanpa adanya pemerintah yang ditaati. Oleh
sebab itulah mentaati ketua negara adalah sebahagian asas utama bagi
Syariat Islam yang suci.
35. Berdasarkan prinsip ketaatan ini jugalah, perbuatan mencabar
pemerintah yang sah sehingga membawa kepada perpecahan masyarakat yang
boleh memecahkan perpaduan dan melemahkan umat adalah satu kesalahan
yang dipandang berat oleh agama seperti mana yang dijelaskan di dalam
sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bermaksud –
“Sesiapa yang datang kepada kamu padahal
kamu semua bersatu di bawah seorang pemerintah, ia ingin melakukan
penderhakaan dan memecahkan perpaduan kamu, maka hendaklah ia dibunuh.”.
Kewajipan Dan Cara Menegur Pemerintah
36. Ketaatan kepada pemerintah tidak menghalang seseorang itu
daripada memberi pandangan, nasihat dan teguran terhadap pemerintah,
malah ianya adalah salah satu perkara yang dituntut di dalam Islam.
37. Walau bagaimanapun Islam mengajar kita supaya apabila hendak
menasihati pemerintah mestilah dilakukan mengikut kaedah dan peraturan
yang ditetapkan oleh hukum Syarak seperti tidak menegur atau menasihat
pemerintah secara terang-terangan kerana ianya boleh mengaibkan
pemerintah, sebaliknya teguran itu hendaklah dilakukan secara berhikmah
dan mengikut saluran yang dibenar oleh Syarak dan undang-undang.
38. Imam Al-Ghazali membahagikan kewajipan amar maaruf kepada lima peringkat:
i) Memberitahu (taarif).
ii) Menasihati dengan kata-kata yang lembut.
iii) Menggunakan kata-kata yang keras.
iv) Mencegah dengan kekuatan.
v) Menggunakan cara ugutan.
39. Pandangan Imam Al-Ghazali di atas bersandarkan kepada sebuah
Hadith yang diriwayat oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim yang bermaksud:-
“Sesiapa yang ingin menasihati pihak yang berkuasa mengenai sesuatu
perkara, maka janganlah ia menyampaikan secara terang-terangan, tetapi
hendaklah ia memegang tangannya dan menyampaikan nasihatnya secara
bersendirian. Sekiranya nasihat itu diterima maka itulah yang baik,
tetapi sekiranya tidak diterima, maka ia (pemberi nasihat) dikira telah
melaksanakan tangungjawabnya.”.
40. Kesimpulannya dapat difahami bahawa ciri-ciri negara Islam ialah Amar Maaruf Nahi Mungkar memelihara Maqasid Syariah
yang telah ditetapkan oleh hukum Syarak, oleh itu menjadi kewajipan
kepada kita untuk mentaati pemerintah selagi mana pemerintah tersebut
menjalankan tanggungjawab menjaga kesucian Islam dan menegakkan
syiarnya.
Sekian, terima kasih.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan